Opini: Pengkhianatan Jokowi pada Ahok dan Bu Megawati

Opini: Pengkhianatan Jokowi pada Ahok dan Bu Megawati

By

[ad_1]

PENGKHIANATAN JOKOWI PADA AHOK DAN BU MEGAWATI

Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)*

Di tahun 2016 itu saya sudah memberi tahu Ahok melalui adiknya (Fifi Lety) kalau yang merekayasa Aksi 212 itu sebenarnya Jokowi. FPI hanyalah proxy Jokowi saja. Kenapa saya tahu soal itu? Karena menjelang Demo 212, saya diprovokasi terus menerus oleh lingkaran utama Jokowi (Ring 1 istana) untuk mau mengungkap kasus-kasus Ahok seperti skandal RS. Sumber Waras, gratifikasi reklamasi pantai dll. meskipun tidak pernah saya layani kemauan mereka. Sampai kemudian terjadilah Aksi 212.

Baca Juga: 365 Hari Mencari Hikmah, Catatan ke-168: Hari Minggu

Waktu saya bertemu Ahok ketika sama-sama berada di ruang tunggu persidangan kasus penodaan agamanya, juga saya beritau kalau Ahok pasti akan tetap “masuk” karena ini sudah menjadi bagian dari skenario istana. Lalu mengapa Jokowi sampai tega ingin memenjarakan Ahok ketika itu? Ini karena Ahok dianggap akan menjadi batu sandungan bagi Jokowi untuk melenggang ke istana di Pilpres selanjutnya (2019).

Ahok juga dianggap sebagai kerikil dalam sepatu bagi Jokowi yang ingin tetap dipandang sebagai pemimpin nasional yang adil, tidak mau melindungi siapapun yang melakukan pelanggaran hukum, termasuk penodaan agama. Padahal sejatinya Ahok saat itu sama sekali tidak bermaksud melakukan penodaan atau pencelaan terhadap agama, namun Jokowilah yang malah berusaha untuk mendorong Ahok agar masuk di pusaran fitnah besar itu.

Baca Juga: Cerpen: Arti Hidup

Melalui berbagai orang-orang terdekatnya Jokowi, saya waktu itu sudah berusaha terus menerus untuk mengingatkan Jokowi agar tidak mengorbankan Ahok, sebab bagaimanapun Ahok itu pendukung militan Jokowi dan kehadiran Ahok saat itu dapat mengimbangi pengaruh pergerakan kaum radikal, intoleran. Sayangnya, Jokowi tetaplah Jokowi, politisi yang haus kekuasaan dan serakah akan jabatan, maka apapun akan tetap dilakukannya termasuk mengorbankan Ahok.

Tahun demi tahun telah berjalan dan Jokowi terlihat semakin serakah, tamak, angkuh dan brutal. Jika sebelumnya Jokowi tak mau disaingi popularitas dan prestasinya oleh Ahok, Jokowi setelah berhasil menyingkirkan Ahok dari Peta Politik Nasional (walaupun Ahok saat itu hanya sebagai Gubernur DKI Jakarta), brutalitas Jokowi mulai melompat jauh yakni ingin menggusur pengaruh Ibu Megawati Soekarnoputri dari PDIP.

Maka mulai diatur-aturlah itu PDIP agar mau menerima skenarionya yang berikutnya, yakni menjadikan Prabowo sebagai Presiden 2024 dan Ganjar Pranowo sebagai Cawapresnya. Keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Bu Megawati dan Mas Ganjar Pranowo. Maka gagallah bertubi-tubi skenario Jokowi.

Jokowi hanya berhasil menjalankan skenario pertamanya, yakni memenjarakan Ahok, namun gagal di sekenarionya yang berikutnya, yakni ingin menjabat tiga periode dan terakhir ingin memaksakan PDIP untuk mendukung Prabowo-Ganjar sebagai Capres-Cawapres 2024.

Bu Megawati memang bukan politisi kaleng-kaleng, jika mau jujur Bu Megawatilah sesungguhnya pelopor utama gerakan Reformasi ’98. Beliau satu-satunya Ketua Umum Partai Politik yang berani menolak Soeharto untuk dicalonkan kembali sebagai Capres di Pemilu 1997. Bu Megawati pulalah yang paling berani terdepan menghadapi Rezim Orde Baru dari unsur Partai Politik. Ini saya bicara bukan hanya sebagai salah satu saksi melainkan pula sebagai salah satu pelaku Sejarah Reformasi ’98.

Sebelum saya maju ke persidangan untuk menjadi saksi yang meringankan bagi tersangka Sri Bintang Pamungkas dalam Peristiwa Pertemuan di Berlin Jerman April 1995, dimana saat itu saya sebagai salah satu inisiator pertemuannya, saya sebagai Warga Nahdliyin alumni Jerman sekaligus alumni Ponpes Tebuireng, menghadap ke Gus Dur untuk meminta izin beliau mendukung perjuangan Mas Sri Bintang Pamungkas, melalui peran saya sebagai saksi yang meringankannya di PN Jakarta Pusat.

Namun apa yang terjadi? Saya diminta oleh Gus Dur untuk tidak mendukung perjuangan Mas Sri Bintang Pamungkas, sebab Rezim Soeharto masih sangat kuat. “Untuk apa melawan Pak Harto? Ingatloh di sebrang itu sangat kuat”. Begitu kata Gus Dur ke saya di akhir tahun 1995 itu di kantor PBNU Jakarta Pusat. Sayapun akhirnya pamit dengan rasa sedih, lalu saya segera ke Cibubur untuk menemui Mas Sri Bintang Pamungkas di rumahnya.